by Princess_B
Aku menengadah ke atas, ke arah langit Seoul yang
kelam dan kelabu. Dalam hati aku terus merutuk, tak bisakah hujan datang lain
waktu dan bukannya sekarang?
Seolah dengan mengumpat tanpa henti, aku bisa mengubah kehendak Tuhan. Ya, tapi memang itulah yang kuharapkan. Apapun, akan kulakukan bahkan jika harus nyawaku sebagai gantinya. Apapun agar bisa membawa sosokmu itu kembali berada disisiku.
Seolah dengan mengumpat tanpa henti, aku bisa mengubah kehendak Tuhan. Ya, tapi memang itulah yang kuharapkan. Apapun, akan kulakukan bahkan jika harus nyawaku sebagai gantinya. Apapun agar bisa membawa sosokmu itu kembali berada disisiku.
Kusadari titik-titik air jatuh semakin kerap,
menimbulkan bau tanah dan jalanan yang khas terkena hujan. Pandanganku—meski
separuh dari pikiranku masih menerawang jauh—kembali tertuju pada keramaian
orang yang berbalut pakaian serba hitam, yang sesekali terlihat saling menenangkan
satu sama lain. Beberapa wanita tak terhitung sudah berapa kali mengusap mata
mereka yang memerah dan sembab.
Dan sekuat apapun aku berusaha untuk menghalaunya
pergi dari pikiranku, memori itu kembali terulang diluar kehendak.
"Donghae oppa.. Kaljjima..",
"Mianhae. Aku harus pergi",
"Andwe!",
"Waeyo? Bukan hakmu mengaturku!"
"Oppa! Aku janji tidak akan mengerjaimu
lagi.. Aku janji akan jadi gadis dewasa!",
"Oppa.. nomu nomu nomu nomu
saranghae..".
Hal terakhir yang kudengar, sebelum kau melingkarkan
kedua tanganmu membentuk sebuah hati, sementara dapat dengan jelas kulihat
butiran air mata jatuh membasahi wajah polosmu. Aku? Pura-pura tidak mendengar.
Pergi menjauh dan meninggalkanmu sendiri demi tuntutan pekerjaan, tanpa
sedikitpun berharap untuk bertemu denganmu lagi. Gadis yang tak pernah lelah
berbagi tawa, gadis yang tanpa kusuruh selalu menemaniku dalam duka. Seorang
sahabat yang tanpa kusadari.. telah mengisi relung-relung hatiku. Hingga sang
waktu merampas hakku untuk berada di sisimu, pada saat-saat kau menjelang ajal.
Dialah Liana, Kim Liana. Nama yang sama dengan
yang terukir di batu nisan yang terbuat dari marmer itu.
Tanpa kusadari kedua tanganku tengah mengepal.
Nafasku tercekat. Isak tangis ahjumma menjadi nyanyian sendu yang
menyayat setiap inci bagian hatiku.
Para pelayat pun secara bertahap, satu per satu pergi meninggalkan areal pemakaman. Tersisa aku, dan makam yang masih semburat kemerahan dengan bunga-bungaan di atasnya. Kakiku melangkah mendekatinya dengan gugup. Dengan lembut kusapukan telapak tanganku ke batu nisan.
Para pelayat pun secara bertahap, satu per satu pergi meninggalkan areal pemakaman. Tersisa aku, dan makam yang masih semburat kemerahan dengan bunga-bungaan di atasnya. Kakiku melangkah mendekatinya dengan gugup. Dengan lembut kusapukan telapak tanganku ke batu nisan.
"S-saranghae..", mataku terpejam.
Aroma tanah basah yang seketika menguar, seakan
membuat rasa sakitku semakin nyata. Tubuhku yang sedari tadi kaku, kini
kubiarkan menyatu dengan tanah pekuburan, tahu posisiku sebagai pria paling
egois dan bodoh di dunia.
"Nomu, nomu.. nomu.. saranghae,
Liana-ya", gumamku tak sanggup lagi menahan cairan yang menggenang di
mata.
"Maut adalah akhir yang pasti. Relakan dia
Donghae-ah", ujar Leeteuk-hyung diikuti yang lain, datang menghampiriku.
Aku bersikukuh, "Saranghae.. nomu
saranghae..",
"Sudahlah Donghae, aku mengerti.
Tenanglah", Hyukjae meletakkan tangannya di pundakku, berusaha agar aku
berhenti menangis.
"Kami semua tahu bagaimana
perasaanmu—",
"Tidak.. Kalian tidak mengerti, betapa aku
sangat mencintainya!!", napasku memburu. "Dan ketahuilah bahwa aku hendak
mengucapkan padanya".
END.

0 comments:
Posting Komentar