***
“ Sungmin-ah, Sung…
ah.. aduhh”
Sanghee berlari kecil mengejar Sungmin di koridor sekolah. Sayang ia
harus terjatuh sebelum sampai ke tempat Sungmin. Sungmin menghentikan
langkahnya, melihat keadaan Sanghee. Ia terlihat panik melihat Sanghee
terjatuh.
“ Sanghee-ah, kau tidak apa-apa? “ tanyanya sambil menolong Sanghee
berdiri.
“ Bisakah kau bantu aku? Bukuku hilang. Padahal hari ini waktunya aku
mengumpulkan tugas dari sungsangnim.Bagaimana ini? “ Mata Sanghee terlihat
berkaca-kaca. Dan tak lama turunlah bulir-bulir air dari kedua matanya yang
indah.
“ Bagaimana bisa? Mungkin kau menjatuhkannya di suatu tempat saat
berangkat sekolah tadi. “ Sungmin bertanya balik.
“ Tapi… aku sudah mencarinya. Tidak ada dimana-mana. “ Tangisan Sanghee
makin menjadi. Sungmin hanya menggelengkan kepalanya pelan.
“ Baiklah ayo kita cari sama-sama. Kita susuri tempat-tempat yang kau
lewati saat berangkat tadi. “ Sungmin menenangkan Sanghee dengan lembut. Ia
menyeka air mata Sanghee dan mengacak pelan rambut yeoja itu.
“ Nae.. “
“ Tempat apa lagi yang kau datangi Sanghee? “ tanya Sungmin lagi untuk memastikan.
Sanghee hanya terdiam sebentar.
“ Entahlah. Aku…”
Teet….teeet…teeet…..
Bel berbunyi dengan nyaring. Memutus pembicaraan mereka berdua secara
paksa. Sanghee gugup dan pucat. Ia sudah tidak menangis lagi, tapi kekhawatiran
tergambar jelas di wajahnya.
“ Kenapa kau tidak jelaskan saja pada sungsangnimmu itu? “ Sungmin
mencoba memberi solusi sebelum mereka berpisah di koridor.
“ Tidak mungkin. Sungsangnim bukanlah orang yang pengertian. “ Sanghee
menggeleng lemah.
“ Jangan berkata tidak mungkin sebelum mencoba. “ Sungmin berkata
tegas. “ Bisa saja sungsangnimmu akan mengerti alasanmu, karena selama ini kau
adalah bintang kelas, bahkan bintang sekolah. Kau hampir tidak pernah melakukan
kesalahan seperti ini sebelumnya. Yakinlah, beliau akan memaklumimu. “ sambung
Sungmin.
“ Tapi… “
“ Jangan katakan kau tidak
berani untuk menjelaskan pada sungsangnimmu. Ayolah Sanghee, hilangkan sifat
pemalumu itu sekali-sekali. Cepat masuk kelas kalau kau tidak ingin dihukum. “
Sungmin melangkah, meninggalkan Sanghee
sendirian di koridor.
Dengan lesu Sanghee membuka pintu kelasnya. Menduduki bangkunya dengan
perasaan takut bercampur gelisah sembari menghapus bekas tangisannya. Sesaat kemudian sungsangnim memasuki kelas.
Perhatian semua murid tertuju pada beliau. Begitu melihat sungsangnim, Sanghee
menunduk pasrah di tempat duduknya. Mungkin ia harus mengatakan yang sebenarnya
pada sungsangnim. Atau membohongi beliau dengan mengatakan bahwa bukunya
tertinggal di rumah.
“ Selamat pagi anak-anak. Hari ini adalah waktunya untuk mengumpulkan
tugas yang kemarin. Letakkan buku kalian di atas meja, saya akan memeriksa
pekerjaan kalian. “
Semua murid mulai mengeluarkan buku mereka. Kecuali Sanghee. Ia tak
tahu apa yang harus dilakukan. Keringat dingin mengalir perlahan dari
pelipisnya. Tangannya gemetar dan detak jantungnya bertambah semakin cepat
saja. Sungsangnim mulai memeriksa tugas murid-murid beliau. Mengambil buku mereka
dan tibalah saatnya giliran Sanghee.
Sanghee menatap sungsangnimnya itu dengan takut-takut. Ia menggigiti
bibirnya sendiri. Memikirkan alasan yang tepat jika sungsangnim bertanya kenapa
ia tidak segera mengeluarkan bukunya.
“ Lee Sanghee “
“ Nae. Sungsangnim… sebenarnya….” Sanghee berniat menjelaskan pada
sungsangnimnya itu. Tapi perkataannya terputus oleh kata-kata sungsangnim.
“ Kau tidak perlu mengumpulkan tugasmu. Bukumu sudah ada padaku. Tadi
pagi Jongwoon yang memberikannya. Aku tidak mengerti kenapa bukumu bisa
dibawanya, tapi tadi ia berkata bahwa bukumu terjatuh dan ia menemukannya. “
“ Eh…. “ Sanghee menggumam pelan sambil memandangi penggung sungsangnim
yang telah berlalu, memeriksa pekerjaan teman sekelasnya yang lain. Penjelasan
tadi membuat Sanghee kaget sekaligus merasa lega. Syukurlah ia tidak dihukum.
Ia ingin berterima kasih pada orang yang berbaik hati memberikan bukunya pada
sungsangnim. Bagaimana orang itu bisa mengerti kalau buku itu harus dikumpulkan
pada sungsangnim? Siapa tadi namanya? Jongwoon? Seperti apakah gerangan dia? Mungkin
ia orang yang baik. Sanghee mulai bertanya-tanya dalam hati.
***
Sanghee dan Jongwoon kini duduk
berdampingan. Sanghee merasa canggung dengan suasana seperti ini. Sungmin-lah
yang mendesaknya untuk duduk disamping Jongwoon, dengan alasan untuk
mendekatkan diri pada Jongwoon. Sungmin sendiri menyibukkan diri dengan
menyiapkan peralatan-peralatan untuk latihan hari ini.
“ Sungmin-ah, kau butuh bantuan?
Biar aku saja yang menyiapkan. “ Sanghee
berusaha menghindar dari suasana canggung itu. Bagaimana tidak? Walaupun ia dan
Jongwoon duduk bersebelahan, tidak membuahkan hasil sama sekali. Sanghee tidak
bisa memulai suatu pembicaraan, sehingga mereka berdua hanya duduk tanpa
mengucapkan sepatah katapun. Tapi Jongwoon sendiri sepertinya belum akan
memulai pembicaraan.
Sementara itu, Sungmin yang tidak
menggubris perkataan Sanghee sama sekali, masih terus menyibukkan diri dengan
menyiapkan peralatan yang sebenarnya sudah siap digunakan itu. Sungmin sengaja.
Ia telah memberikan kesempatan pada Sanghee untuk bisa mendekati Jongwoon, maka
Sanghee harus bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikannya itu. Begitu pikir
Sungmin. Sejenak Sungmin melirik sepupu sekaligus sahabatnya itu. Yeoja itu
terdiam kembali. Sungmin yakin bahwa Sanghee sebenarnya mengetahui
kesengajaannya itu, namun tidak dapat melakukan apapun selain kembali diam. Ini
membuat Sungmin sedikit kesal. Ia harus melakukan hal lain untuk mendekatkan
Sanghee pada Jongwoon. Dengan cara apa? Keluar dan membiarkan mereka sendirian?
Ide bagus.
“ Aku haus. “ Sungmin berkata tiba-tiba.
Ia-pun bangkit mengambil tasnya. “ Aku akan keluar sebentar untuk mencari
minuman. Apa kalian mau pesan sesuatu? “ tanyanya sambil memandang Sanghee dan
Jongwoon.
“ Aku…” Sanghee berpikir sejenak.
“ Terserah kau saja. aku tidak tahu apa yang kuinginkan hari ini. Mungkin kau
bisa belikan yang sama denganmu Sungmin-ah. “
Sungmin mengangguk tanda
mengerti. Ia mengalihkan pandangannya pada Jongwoon. “ Hyung, apa yang ingin
kau pesan? “
“ Sama dengan Sanghee-ssi.
Belikan sesuatu yang sama dengannya. “
“ Nae. Apapun yang aku beli
kalian tidak boleh protes. “
Sungmin bangkit, melangkahkan
kakinya menuju pintu dan keluar. Sanghee memandangi namja itu. Ia lebih memilih
disuruh membeli minuman daripada harus menghadapi suasana canggung seperti ini.
Tapi entah kenapa tadi rasanya mulutnya kelu.
Ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk meminta Sungmin
menyuruhnya membeli minuman. Sepertinya, ia ingin sedikit lebih lama dekat
dengan Jongwoon.
***
Hari itu Jongwoon datang lebih pagi dari biasanya. Sebentar lagi grup
paduan suara sekolah akan mengikuti kompetisi. Ia ingin memperoleh hasil yang maksimal dengan
meminta anggota lainnya untuk datang lebih pagi juga, meskipun ia sudah dapat
memprediksi jika mereka akan datang terlambat. Hal itu bukan masalah untuknya,
toh ia bisa berlatih sendiri sambil menunggu yang lainnya datang.
Jongwoon menyusuri koridor sekolah. Sekolah masih tampak sepi. Hanya
beberapa saja yang sudah datang. Jongwoon mengedarkan pandangannya ke
tempat-tempat di sekelilingnya. Mungkin enak juga datang sepagi ini, suasana
masih begitu tenang. Cocok untuk berlatih, karena tidak terlalu ada gangguan,
begitu pikirnya.
Jongwoon melangkahkan kakinya kembali, melanjutkan perjalanannya yang
terhenti sebentar.Akan tetapi, langkahnya
itu harus terhenti lagi saat ia mendengar sesuatu. Seperti suara seorang namja
dan yeoja yang sedang berbicara. Suara yeoja itu terdengar sedikit aneh. Ah,
mungkinkah yeoja itu sedang menangis? Tanyanya dalam hati. Jongwoon tidak dapat
menahan keingintahuannya. Maka, ia pun melihat apa yang sedang terjadi. Seperti
dugaannya, yeoja itu sedang menangis.sementara itu seorang namja berdiri
didepannya dengan wajah panik.
“ Bisakah kau bantu aku? Bukuku hilang. Padahal hari ini waktunya aku
mengumpulkan tugas dari sungsangnim. Bagaimana ini? “ ucap yeoja itu dengan
mata berkaca-kaca.
“ Bagaimana bisa? Mungkin kau menjatuhkannya di suatu tempat saat
berangkat sekolah tadi. “ namja itu bertanya balik
“ Tapi… aku sudah mencarinya. Tidak ada dimana-mana. “ tangisannya
sedikit menjadi. Namja yang ada di hadapan yeoja itu hanya diam, tapi kemudian
mulai menenangkannya dengan lembut dan menyeka air mata si yeoja.
“ Baiklah ayo kita cari sama-sama. Kita susuri tempat-tempat yang kau
lewati saat berangkat tadi. “
Namja dan yeoja itu pergi. Mereka melewati Jongwoon yang saat itu
sedang berdiri terpaku di ujung koridor. Jongwoon memandangi mereka. Ia tahu
siapa sungsangnim yang dimaksud yeoja itu. Beliau sedikit agak tidak
pengertian, tidak bisa menoleransi berbagai alasan yang diberikan muridnya. Yeoja
itu dalam masalah.
***
Jongwoon melirik yeoja yang duduk
disampingnya itu. Sanghee, sepupu Sungmin. Ia belum pernah melihat yeoja ini
hadir dalam performance atau latihan mereka. Menurut Sungmin, ia adalah yeoja
yang sangat pemalu dan tertutup. Dan sepertinya memang benar. Sanghee hanya
mengucapkan namanya saat mereka bertemu dan seterusnya hanya diam. Sedangkan
saat ini, Sanghee memandangi bagian luar ruang studio. Ia gugup. Hanya
ditinggalkan berdua dengan seorang namja apalagi namja itu adalah orang yang
disukainya sejak lama.
“ Sanghee-ssi? “ Jongwoon mencoba membuka pembicaraan dengan memanggil
pelan sambil tersenyum ke arah Sanghee. Wajah Sanghee sedikit memerah karena
panggilan itu. Namun dengan reflek tangannya yang mungil menutupi mukanya.
Jongwoon tertawa kecil melihat reaksi Sanghee.
“ Ada apa sunbae? “ Sanghee
bertanya balik dengan nada gemetar. Jantungnya berdegup amat kencang kali ini,
seakan-akan jantungnya itu meronta ingin keluar.
“ Kau tidak perlu segugup itu
saat berbicara denganku, Sanghee-ssi. Bukankah aku telah menjadi sunbaemu sejak
SD? “ Jongwoon tersenyum hangat pada Sanghee. Dan oh, apakah yang dirasakan
Sanghee? Ia merasa seakan hatinya akan meledak.
“J…Ja.. Jadi sunbae tahu kalau
aku telah menjadi hoobaemu sejak SD? “ tanya Sanghee terbata-bata. Tak percaya
akan hal yang baru saja didengarnya. Jongwoon tahu tentang dirinya?
“ Tentu saja. Kau telah menjadi
hoobaeku sejak lama. Selain itu bagaimana aku bisa tidak tahu? Kau adalah anak
pintar yang selalu menyabet juara umum di sekolah “ Jongwoon tersenyum kembali.
“ O…oh…lalu? “ Ah, ingin sekali Sanghee
menyembunyikan perasaan bahagia yang dirasakannya saat ini, tapi ia tidak bisa.
Maka ia hanya menundukkan kepalanya, agar Jongwoon tidak melihat mukanya yang
mungkin memerah seperti kepiting rebus.
“ Aku ingin menawarimu ini. “
kata Jongwoon sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “ Kotak ini ,
kelihatannya berisi coklat. Aku ingin memakannya denganmu. “
Sanghee tertegun. Tunggu,
bukankah itu kotak yang kuletakkan di meja Jongwoon sunbae? Tanya Sanghee dalam
hati. Dan kini debaran jantungnya sudah tidak terkontrol lagi. Astaga… apa yang
harus aku lakukan? Sanghee memejamkan matanya pelan.
***
TBC

0 comments:
Posting Komentar