Kamis, 12 Juli 2012

Shy Love-2

by Mhyto



***
“ Sungmin-ah, Sung… ah.. aduhh”
Sanghee berlari kecil mengejar Sungmin di koridor sekolah. Sayang ia harus terjatuh sebelum sampai ke tempat Sungmin. Sungmin menghentikan langkahnya, melihat keadaan Sanghee. Ia terlihat panik melihat Sanghee terjatuh.
“ Sanghee-ah, kau tidak apa-apa? “ tanyanya sambil menolong Sanghee berdiri.
“ Bisakah kau bantu aku? Bukuku hilang. Padahal hari ini waktunya aku mengumpulkan tugas dari sungsangnim.Bagaimana ini? “ Mata Sanghee terlihat berkaca-kaca. Dan tak lama turunlah bulir-bulir air dari kedua matanya yang indah.
“ Bagaimana bisa? Mungkin kau menjatuhkannya di suatu tempat saat berangkat sekolah tadi. “ Sungmin bertanya balik.
“ Tapi… aku sudah mencarinya. Tidak ada dimana-mana. “ Tangisan Sanghee makin menjadi. Sungmin hanya menggelengkan kepalanya pelan.
“ Baiklah ayo kita cari sama-sama. Kita susuri tempat-tempat yang kau lewati saat berangkat tadi. “ Sungmin menenangkan Sanghee dengan lembut. Ia menyeka air mata Sanghee dan mengacak pelan rambut yeoja itu.
“ Nae.. “
Sungmin dan Sanghee berbalik arah, menyusuri tempat-tempat yang dilewati Sanghee saat berangkat sekolah tadi. Koridor sekolah, taman-taman kecil, bahkan hampir sampai di gerbang sekolah mereka belum menemukannya.
“ Tempat apa lagi yang kau datangi Sanghee?  “ tanya Sungmin lagi untuk memastikan. Sanghee hanya terdiam sebentar.
 “ Entahlah. Aku…”
Teet….teeet…teeet…..
Bel berbunyi dengan nyaring. Memutus pembicaraan mereka berdua secara paksa. Sanghee gugup dan pucat. Ia sudah tidak menangis lagi, tapi kekhawatiran tergambar jelas di wajahnya.
“ Kenapa kau tidak jelaskan saja pada sungsangnimmu itu? “ Sungmin mencoba memberi solusi sebelum mereka berpisah di koridor.
“ Tidak mungkin. Sungsangnim bukanlah orang yang pengertian. “ Sanghee menggeleng lemah.
“ Jangan berkata tidak mungkin sebelum mencoba. “ Sungmin berkata tegas. “ Bisa saja sungsangnimmu akan mengerti alasanmu, karena selama ini kau adalah bintang kelas, bahkan bintang sekolah. Kau hampir tidak pernah melakukan kesalahan seperti ini sebelumnya. Yakinlah, beliau akan memaklumimu. “ sambung Sungmin.
“ Tapi… “
“ Jangan katakan  kau tidak berani untuk menjelaskan pada sungsangnimmu. Ayolah Sanghee, hilangkan sifat pemalumu itu sekali-sekali. Cepat masuk kelas kalau kau tidak ingin dihukum. “ Sungmin melangkah,  meninggalkan Sanghee sendirian di koridor.
Dengan lesu Sanghee membuka pintu kelasnya. Menduduki bangkunya dengan perasaan takut bercampur gelisah sembari menghapus bekas tangisannya.  Sesaat kemudian sungsangnim memasuki kelas. Perhatian semua murid tertuju pada beliau. Begitu melihat sungsangnim, Sanghee menunduk pasrah di tempat duduknya. Mungkin ia harus mengatakan yang sebenarnya pada sungsangnim. Atau membohongi beliau dengan mengatakan bahwa bukunya tertinggal di rumah.
“ Selamat pagi anak-anak. Hari ini adalah waktunya untuk mengumpulkan tugas yang kemarin. Letakkan buku kalian di atas meja, saya akan memeriksa pekerjaan kalian. “
Semua murid mulai mengeluarkan buku mereka. Kecuali Sanghee. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Keringat dingin mengalir perlahan dari pelipisnya. Tangannya gemetar dan detak jantungnya bertambah semakin cepat saja. Sungsangnim mulai memeriksa tugas murid-murid beliau. Mengambil buku mereka dan tibalah saatnya giliran Sanghee.
Sanghee menatap sungsangnimnya itu dengan takut-takut. Ia menggigiti bibirnya sendiri. Memikirkan alasan yang tepat jika sungsangnim bertanya kenapa ia tidak segera mengeluarkan bukunya.
“ Lee Sanghee “
“ Nae. Sungsangnim… sebenarnya….” Sanghee berniat menjelaskan pada sungsangnimnya itu. Tapi perkataannya terputus oleh kata-kata sungsangnim.
“ Kau tidak perlu mengumpulkan tugasmu. Bukumu sudah ada padaku. Tadi pagi Jongwoon yang memberikannya. Aku tidak mengerti kenapa bukumu bisa dibawanya, tapi tadi ia berkata bahwa bukumu terjatuh dan ia menemukannya. “
“ Eh…. “ Sanghee menggumam pelan sambil memandangi penggung sungsangnim yang telah berlalu, memeriksa pekerjaan teman sekelasnya yang lain. Penjelasan tadi membuat Sanghee kaget sekaligus merasa lega. Syukurlah ia tidak dihukum. Ia ingin berterima kasih pada orang yang berbaik hati memberikan bukunya pada sungsangnim. Bagaimana orang itu bisa mengerti kalau buku itu harus dikumpulkan pada sungsangnim? Siapa tadi namanya? Jongwoon? Seperti apakah gerangan dia? Mungkin ia orang yang baik. Sanghee mulai bertanya-tanya dalam hati.
***
Sanghee dan Jongwoon kini duduk berdampingan. Sanghee merasa canggung dengan suasana seperti ini. Sungmin-lah yang mendesaknya untuk duduk disamping Jongwoon, dengan alasan untuk mendekatkan diri pada Jongwoon. Sungmin sendiri menyibukkan diri dengan menyiapkan peralatan-peralatan untuk latihan hari ini.
“ Sungmin-ah, kau butuh bantuan? Biar aku saja yang menyiapkan. “  Sanghee berusaha menghindar dari suasana canggung itu. Bagaimana tidak? Walaupun ia dan Jongwoon duduk bersebelahan, tidak membuahkan hasil sama sekali. Sanghee tidak bisa memulai suatu pembicaraan, sehingga mereka berdua hanya duduk tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tapi Jongwoon sendiri sepertinya belum akan memulai pembicaraan.
Sementara itu, Sungmin yang tidak menggubris perkataan Sanghee sama sekali, masih terus menyibukkan diri dengan menyiapkan peralatan yang sebenarnya sudah siap digunakan itu. Sungmin sengaja. Ia telah memberikan kesempatan pada Sanghee untuk bisa mendekati Jongwoon, maka Sanghee harus bisa memanfaatkan kesempatan yang diberikannya itu. Begitu pikir Sungmin. Sejenak Sungmin melirik sepupu sekaligus sahabatnya itu. Yeoja itu terdiam kembali. Sungmin yakin bahwa Sanghee sebenarnya mengetahui kesengajaannya itu, namun tidak dapat melakukan apapun selain kembali diam. Ini membuat Sungmin sedikit kesal. Ia harus melakukan hal lain untuk mendekatkan Sanghee pada Jongwoon. Dengan cara apa? Keluar dan membiarkan mereka sendirian? Ide bagus.
 “ Aku haus. “ Sungmin berkata tiba-tiba. Ia-pun bangkit mengambil tasnya. “ Aku akan keluar sebentar untuk mencari minuman. Apa kalian mau pesan sesuatu? “ tanyanya sambil memandang Sanghee dan Jongwoon.
“ Aku…” Sanghee berpikir sejenak. “ Terserah kau saja. aku tidak tahu apa yang kuinginkan hari ini. Mungkin kau bisa belikan yang sama denganmu Sungmin-ah. “
Sungmin mengangguk tanda mengerti. Ia mengalihkan pandangannya pada Jongwoon. “ Hyung, apa yang ingin kau pesan? “
“ Sama dengan Sanghee-ssi. Belikan sesuatu yang sama dengannya. “
“ Nae. Apapun yang aku beli kalian tidak boleh protes. “
Sungmin bangkit, melangkahkan kakinya menuju pintu dan keluar. Sanghee memandangi namja itu. Ia lebih memilih disuruh membeli minuman daripada harus menghadapi suasana canggung seperti ini. Tapi entah kenapa tadi rasanya mulutnya kelu.  Ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk meminta Sungmin menyuruhnya membeli minuman. Sepertinya, ia ingin sedikit lebih lama dekat dengan Jongwoon.
***
Hari itu Jongwoon datang lebih pagi dari biasanya. Sebentar lagi grup paduan suara sekolah akan mengikuti kompetisi.  Ia ingin memperoleh hasil yang maksimal dengan meminta anggota lainnya untuk datang lebih pagi juga, meskipun ia sudah dapat memprediksi jika mereka akan datang terlambat. Hal itu bukan masalah untuknya, toh ia bisa berlatih sendiri sambil menunggu yang lainnya datang.
Jongwoon menyusuri koridor sekolah. Sekolah masih tampak sepi. Hanya beberapa saja yang sudah datang. Jongwoon mengedarkan pandangannya ke tempat-tempat di sekelilingnya. Mungkin enak juga datang sepagi ini, suasana masih begitu tenang. Cocok untuk berlatih, karena tidak terlalu ada gangguan, begitu pikirnya.
Jongwoon melangkahkan kakinya kembali, melanjutkan perjalanannya yang terhenti sebentar.Akan tetapi,  langkahnya itu harus terhenti lagi saat ia mendengar sesuatu. Seperti suara seorang namja dan yeoja yang sedang berbicara. Suara yeoja itu terdengar sedikit aneh. Ah, mungkinkah yeoja itu sedang menangis? Tanyanya dalam hati. Jongwoon tidak dapat menahan keingintahuannya. Maka, ia pun melihat apa yang sedang terjadi. Seperti dugaannya, yeoja itu sedang menangis.sementara itu seorang namja berdiri didepannya dengan wajah panik.
“ Bisakah kau bantu aku? Bukuku hilang. Padahal hari ini waktunya aku mengumpulkan tugas dari sungsangnim. Bagaimana ini? “ ucap yeoja itu dengan mata berkaca-kaca.
“ Bagaimana bisa? Mungkin kau menjatuhkannya di suatu tempat saat berangkat sekolah tadi. “ namja itu bertanya balik
“ Tapi… aku sudah mencarinya. Tidak ada dimana-mana. “ tangisannya sedikit menjadi. Namja yang ada di hadapan yeoja itu hanya diam, tapi kemudian mulai menenangkannya dengan lembut dan menyeka air mata si yeoja.
“ Baiklah ayo kita cari sama-sama. Kita susuri tempat-tempat yang kau lewati saat berangkat tadi. “
Namja dan yeoja itu pergi. Mereka melewati Jongwoon yang saat itu sedang berdiri terpaku di ujung koridor. Jongwoon memandangi mereka. Ia tahu siapa sungsangnim yang dimaksud yeoja itu. Beliau sedikit agak tidak pengertian, tidak bisa menoleransi berbagai alasan yang diberikan muridnya. Yeoja itu dalam masalah.
***
Jongwoon melirik yeoja yang duduk disampingnya itu. Sanghee, sepupu Sungmin. Ia belum pernah melihat yeoja ini hadir dalam performance atau latihan mereka. Menurut Sungmin, ia adalah yeoja yang sangat pemalu dan tertutup. Dan sepertinya memang benar. Sanghee hanya mengucapkan namanya saat mereka bertemu dan seterusnya hanya diam. Sedangkan saat ini, Sanghee memandangi bagian luar ruang studio. Ia gugup. Hanya ditinggalkan berdua dengan seorang namja apalagi namja itu adalah orang yang disukainya sejak lama.
 “ Sanghee-ssi? “  Jongwoon mencoba membuka pembicaraan dengan memanggil pelan sambil tersenyum ke arah Sanghee. Wajah Sanghee sedikit memerah karena panggilan itu. Namun dengan reflek tangannya yang mungil menutupi mukanya. Jongwoon tertawa kecil melihat reaksi Sanghee.
“ Ada apa sunbae? “ Sanghee bertanya balik dengan nada gemetar. Jantungnya berdegup amat kencang kali ini, seakan-akan jantungnya itu meronta ingin keluar.
“ Kau tidak perlu segugup itu saat berbicara denganku, Sanghee-ssi. Bukankah aku telah menjadi sunbaemu sejak SD? “ Jongwoon tersenyum hangat pada Sanghee. Dan oh, apakah yang dirasakan Sanghee? Ia merasa seakan hatinya akan meledak.
“J…Ja.. Jadi sunbae tahu kalau aku telah menjadi hoobaemu sejak SD? “ tanya Sanghee terbata-bata. Tak percaya akan hal yang baru saja didengarnya. Jongwoon tahu tentang dirinya?
“ Tentu saja. Kau telah menjadi hoobaeku sejak lama. Selain itu bagaimana aku bisa tidak tahu? Kau adalah anak pintar yang selalu menyabet juara umum di sekolah “ Jongwoon tersenyum kembali.
“ O…oh…lalu? “ Ah, ingin sekali Sanghee menyembunyikan perasaan bahagia yang dirasakannya saat ini, tapi ia tidak bisa. Maka ia hanya menundukkan kepalanya, agar Jongwoon tidak melihat mukanya yang mungkin memerah seperti kepiting rebus.
“ Aku ingin menawarimu ini. “ kata Jongwoon sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “ Kotak ini , kelihatannya berisi coklat. Aku ingin memakannya denganmu. “
Sanghee tertegun. Tunggu, bukankah itu kotak yang kuletakkan di meja Jongwoon sunbae? Tanya Sanghee dalam hati. Dan kini debaran jantungnya sudah tidak terkontrol lagi. Astaga… apa yang harus aku lakukan? Sanghee memejamkan matanya pelan.
***
TBC

0 comments:

Posting Komentar

 

Template by Suck my Lolly