***
Yeoja itu mengintip malu-malu
dibalik lokernya yang terbuka separuh. Kulitnya yang putih tampak bersemu
kemerahan. Tangannya menggenggam sebuah kotak yang terbungkus rapi dan
cantik dengan pita berwarna merah. Kotak itu berisi coklat. Sebagai hadiah yang
akan dia berikan di hari kasih sayang itu. Kepada sunbae-nya.
Dengan hati yang berdegup
kencang, yeoja itu kembali mengintip. Melihat seorang namja yang tengah
berdiri, dikerubungi oleh banyak yeoja yang juga mengagumi namja itu. Kim
Jongwoon nama namja itu. Seorang mahasiswa musik Seoul Art University yang saat
ini menjadi guru magang di sekolahnya. Jongwoon adalah sunbaenya saat SD dan
SMP. Sejak SD, Jongwoon memang populer. Tampan dan memiliki suara yang indah. Selain
itu, ada sisi lain Jongwoon yang hanya diketahui olehnya. Jongwoon adalah orang
yang hangat dan dewasa, sekalipun lebih banyak diam di hadapan orang lain. Namun,
sebenarnya perhatian yang diberikan pada orang lain jauh lebih besar dan tulus,
tidak seorangpun mengetahui ketulusannya itu. Itulah yang membuatnya menyukai
Jongwoon.
Sayang, yeoja itu terlalu pemalu.
Ia bahkan tidak memiliki keberanian walaupun hanya sekedar menyapa apalagi
untuk memberikan coklat yang saat ini digenggamnya. Ia melihat kembali ke arah Jongwoon
yang masih dikerubungi oleh para yeoja. Ia ingin bergabung dengan yeoja-yeoja
yang lain, memberikan coklat itu. Rasa malu yang dimilikinya lebih besar. Diurungkan
niatnya itu dan ia pun meninggalkan tempat itu. Ia memutuskan untuk meletakkan
coklat tersebut di ruangan Jongwoon saja.
***
“ Bagaimana? Apa kau berhasil
memberikan coklat itu pada Jongwoon sunbae? “
Sanghee menggeleng pelan.
“ Tidak. Aku hanya meletakkannya
di ruangan yang biasa digunakan Jongwoon sunbae. “ katanya sambil tersenyum lembut
kepada Sungmin.
Sungmin mendesah pelan. “ Aku
heran padamu. Kenapa tidak kau berikan saja langsung. Bukankah kau sudah
memendam rasa sukamu padanya sejak kecil? Kenapa kau malah meletakkan coklat
itu di ruangannya? Dia tidak akan pernah tahu kalau kau yang memberikan coklat
itu, Sanghee-ah “
“ Kau tahu kan aku adalah orang
yang sangat pemalu. Mengucapkan ‘annyeong haseyo’ padanya saja tidak bisa. Apalagi
kalau harus memberikan coklat itu Sungmin-ah “ Sanghee menjawab dengan nada
tercekat.
“ Sanghee-ah, apa kau tidak percaya
diri? Bukankah kau ini cantik? Pandai? Baik hati? Dan kau juga cukup
populer. Kau sebanding dengannya Sanghee. “ Sungmin mencoba membangkitkan rasa
percaya diri sahabat sekaligus sepupunya itu. Memang benar Sanghee adalah
yeoja yang cantik. Ia dianugerahi sepasang mata berwarna coklat tua yang
memikat, hidung yang mancung, dan bibir mungil berwarna kemerahan alami yang
terukir indah di wajahnya. Kulitnya putih bersih dan mulus. Tubuhnya mungkin
tak terlalu tinggi, namun proporsional. Jika Sungmin mengatakannya populer, itu
juga benar. Sanghee selalu meraih juara pertama di sekolah itu, jadi tidak
mungkin semua orang tidak mengenalnya.
“ Tidak Sungmin-ah, aku tidak
terlalu populer. Aku biasa saja. Kau masih jauh lebih populer daripada aku ,
kau aktif dalam band dan kenalanmu juga banyak. “ Sanghee merendah.
Sungmin kembali mendesah. Selalu saja
seperti itu, batin Sungmin. Sifat pemalu Sanghee sudah keterlaluan, karena itu
ia tidak bisa dekat dengan siapa-siapa. Dekat dengan seorang yeoja saja sulit,
apalagi namja. Dalam hatinya ia juga ingin Sanghee bisa dekat dengan seorang
namja, seperti yeoja yang lain. Akhirnya
sebuah ide terlintas di benak Sungmin. Ia tersenyum.
“ Sanghee-ah, kau ada waktu hari
ini? Jika ada aku ingin kau ikut dalam latihan band-ku hari ini. Manajer kami
sedang sakit, kami membutuhkan pengganti. “
“ Tapi..” Sanghee merasa ragu. Ia
tahu Sungmin aktif dalam sebuah band. Namun ia tidak pernah sekalipun menonton
performance band Sungmin. Sanghee tahu, sebagai sahabat dan sepupu Sungmin, ia tidak boleh seperti itu. itu sama saja dengan tidak mendukung Sungmin. Ia merasa tidak enak pada teman-teman namja itu. Mereka tidak mempermasalahkannya karena mereka tahu sulit bagi Sanghee untuk bergaul dengan orang lain.
“ Gwenchana. Aku tahu apa yang
ada dalam pikiranmu. Tidak apa-apa, tidak masalah . Teman-temanku pasti akan menyambutmu dengan hangat. Ini juga merupakan salah satu latihan yang
bagus supaya kau tidak canggung saat berhadapan dengan orang lain, terutama dengan namja. Sebagai sahabat
sekaligus sepupumu, aku juga ingin kau bisa dekat dengan seorang namja. “
Sungmin menepuk bahu Sanghee.
Sanghee terdiam sesaat. Ia merasa kata-kata Sungmin ada benarnya juga.
“ Nae,
aku akan datang. “
***
Sanghee mengamati studio yang
menjadi tempat latihan band Sungmin hari itu. Tidak sempit, namun juga tidak
terlalu luas. Tempat itu tertata dengan rapi dan bersih. Cukup nyaman untuk
Sanghee. Sanghee mengalihkan pandangannya keluar, kearah Sungmin yang sedang
menelpon seseorang. Sungmin seorang namja yang populer, walaupun tidak
sepopuler Jongwoon. Ia ramah dan baik, memiliki banyak kenalan. Mungkin karena
keaktifannya dalam band. Terkadang Sanghee merasa sedikit iri pada Sungmin yang
bisa mempunyai banyak kenalan dan bisa bergaul dengan siapa saja. Sanghee ingin
seperti Sungmin, namun karena ia pemalu, ia merasa tidak akan pernah bisa
seperti Sungmin.
Sungmin membuka pintu studio
dengan perlahan dan duduk disamping Sanghee. Ia membuka botol minuman yang
dibawa Sanghee dan menenggak habis isinya.
“ Sebentar lagi, salah satu
member band akan datang. Ingat, jangan malu-malu untuk memperkenalkan diri.
Atau setidaknya kau harus menyapanya. “
“ Kenapa kau menyuruhku untuk
datang, Sungmin-ah? Bukankah kau bisa meminta kenalanmu yang lain untuk
menggantikan manajermu? Aku kan tidak tahu apa-apa soal musik, aku takut akan
merepotkan kalian nantinya. “ Sanghee menjawab dengan kalem sembari
menyandarkan tubuhnya di dinding.
“ Gwenchana. Kau tidak perlu sekhawatir
itu Sanghee-ah. Tugas manajer hanya menyediakan peralatan dan membantu
persiapan member band saja. Kau tidak perlu tahu soal musik. Yang penting kau
tahu apa yang dibutuhkan oleh band dan membernya “ jelas Sungmin.
Sanghee terdiam. Ia kembali
memandang ke luar studio, sampai matanya menangkap sosok seorang namja yang
berjalan ke arah studio. Ia merasa familiar dengan namja itu. Bagaimana tidak,
ia adalah Jongwoon. Sunbae yang dicintainya secara diam-diam selama ini.
Jongwoon masuk ke dalam studio. Ia
tersenyum kecil pada Sungmin yang saat itu tengah duduk di samping Sanghee.
“ Sunbae, kau sudah datang? Apa
ini tidak terlalu cepat? Yang lain saja belum datang. “ Sungmin menyambut
Jongwoon dengan gembira.
“ Tidak apa-apa Sungmin-ah. Aku tidak
suka datang terlambat. “
Sanghee memalingkan mukanya. Ia bisa
merasakan kedua pipinya memanas dan wajahnya merona kemerahan, karena seorang
Jongwoon.
“ Sanghee-ah ini Kim Jongwoon. Dia
vokalis band kami. Ah, Jongwoon-hyung, aku mengajak sepupuku. Namanya Lee
Sanghee. “ Sungmin menarik tangan
Sanghee, membawa Sanghee kehadapan Jongwoon. Sanghee menutupi wajahnya dengan
satu tangannya.
Jongwoon tersenyum menatap
Sanghee. “ Kim Jongwoon immnida. “
Dan sekarang Sanghee benar-benar
gugup. Ia merasa tak mampu berkata-kata lagi, tapi ia merasakan siku Sungmin
yang berkali-kali menyenggol sikunya.
“ L..L..Lee Sanghee imnida. “
***
TBC

0 comments:
Posting Komentar